RENUNGAN UNTUK SEMUA DA`IE

Loading...

Wednesday, 8 October 2008

TAQWA : Bekalan Penting Untuk Da`ie

Oleh :
(Naib. Ketua Dewan Pemuda PAS Negeri Kedah)
MUQADDIMAH
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (13
Maksudnya ;Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamudari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu berbagai bangsa dan bersuku puak, supaya kamu berkenal-kenalan (dan beramah mesra antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu, (bukan yang lebih keturunan atau bangsanya). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pegetahuan-Nya (terhadap keadaan dan amalan kamu).
Asal kejadian manusia adalah daripada Adam alaihisalam. Daripada Adam, Allah ciptakan pula Hawa alaihassalam. Bermuala daripada sini, berkembang biaklah manusia, sehingga terpecahlah manusia kepada berbagai-bagai bangsa dan berbagai-bagai qabilah.
Di dalam ayat ini Allah SWT menegah manusia daripada bermegah-megah dengan keturunan, harta benda dan sebagainya. Allah menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bekabilah-kabilah, hanya bertujuan untuk manusia saling berkenalan antara mereka, selain untuk mengetahui siapa yang dekat dan jauh di dalam nasab keturunan, bukan untuk berbangga-bangga dengan keturunan. Tidak ada kemulian sesuatu bangsa dengan bangsa yang lain, seseorang dengan seseorang yang lain kecuali dengan taqwa.
DEFINASI TAQWA
Para ulama Rahimahullaah telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan taqwa. Di antaranya, Imam Ar-Raghib Al-Ashfahani mendefinisikan: "Taqwa Iaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan".
Sedangkan Imam An-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan "Mentaati perintah dan larangan-Nya." Maksudnya, menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhannahu wa Ta'ala Hal itu sebagaimana didefinisikan oleh Imam Al-Jurjani "Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya."Karena itu, siapa yang tidak menjaga dirinya, dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya apa yang diharamkan Allah, atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa yang dimurkai Allah, atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak diridhai Allah, atau berjalan ke tempat yang dikutuk Allah, berarti tidak menjaga dirinya dari dosa.
Jadi, orang yang membangkang perintah Allah serta melakukan apa yang dilarang-Nya,dia bukanlah termasuk orang-orang yang bertaqwa. Orang yang menceburkan diri ke dalam maksiat sehingga ia mendapat murka dan siksa dari Allah, maka ia telah mengeluarkan dirinya dari barisan orang-orang yang bertaqwa.
UKURAN INSAN TERMULIA
Penilaian yang paling tepat untuk menentukan siapa yang terbaik adalah berpandukan neraca dan suluhan syarak.Taqwa adalah ukuran kemuliaan seseorang insane. Sabda Rasulullah SAW :
قام رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم وهو على المنبر، فقال: يا رسول الله، أي الناس خير؟ فقال صلى الله عليه وسلم: "خير الناس أقرؤهم، وأتقاهم لله عز وجل، وآمرهم بالمعروف، وأنهاهم عن المنكر، وأوصلهم للرحم" (2) .
Maksudnya;Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW, ketika Nabi sedang berada di atas mimbar, seraya terus berkata: Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik ? Jawab Rasulullah: Manusia yang paling baik ialah siapa yang paling mengetahui terhadap Kitabullah, paling bertaqwa kepada Allah Azza Wajalla, yang paling banyak menjalankan kerja amar maaruf dan nahi mungkar, dan paling banyak menghubungkan tali silaturrahim.Begitulah taqwa telah mengambil tempat yang tinggi untuk menjadi ukuran kemuliaan seseorang manusia, bahkan ia tetap kayu neraca Allah terhadap manusia pada hari akhirat nanti.
Sabda Rasululllah SAW :
"إنَّ اللّهُ لا يسألُكُمْ عَنْ أحْسابِكُمْ وَلا عَنْ أنْسابِكُمْ يَوْمَ القِيامَةِ، إن أكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّهِ أتْقاكُمْ".
Maksudnya;Sesungguhnya Allah tidak bertanya mengenai kedudukan dan keturunan kamu pada hari kiamat nanti. Sesungguhnya yang paling mulia di kalangan kamu di sisi Allah ialah siapa yang paling bertaqwa.
Sabda Rasulullah SAW :
إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم
"Maksudnya;Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa paras dan harta benda kamu, tetapi Allah melihat kepada hati dan amalan kamu.
TUNTUTAN TAQWA
Taqwa menuntut kita mati sebagai seorang Islam. Bahkan lebih daripada itu, kita wajar mendambakan untuk mati di dalam perjuangan Islam. Firman Allah SWT di dalam surah Ali-Imran : 102
يا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقا ته ولا تموتن إلا و أنتم مسلمون
Maksudnya : “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati, kecuali mati dalam keadaan (beragama) Islam”.
Dari ayat ini dapat disimpulkan bahawa seorang muslim mesti berkomitmen dengan tiga komitmen :
Komitmen Pertama
Komitmen pertama dari seorang muslim adalah beriman. Ciri-ciri orang yang beriman ialah seperti firman Allah di dalam surah Al Anfal : 2 – 3. Maksudnya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah; yang apabila di sebut asma Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah iman mereka, dan kepada Allahlah mereka bertawakal. Iaitu orang-orang yang mendirikan solat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami (Allah SWT) berikan kepada mereka”.
Komitmen Kedua
Komitmen kedua seorang muslim adalah “Ittaqullah” iaitu bertaqwa kepada Allah SWT. Seorang muslim yang telah berkomitmen kuat beriman kepada Allah SWT akan berkerja untuk meningkatkan kualiti darjat keimanannya kepada darjat taqwa, iaitu menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan meninggalkan semua larangan Allah SWT.a-
Komitmen Ketiga
Komitmen ketiga dari seorang muslim adalah “Tamuutun Fil Islam” iaitu mati dalam keadaan Islam. Semoga keimanan dan ketaqwaan yang kita jalani dalam hidup ini akan menjadi modal kepada kita untuk menghadapi kematian, dan menjadi modal untuk menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat nanti”.
TAQWA ADALAH JALAN KELUAR SEMUA PERMASALAHAN
Ketaqwaan adalah suatu yang amat penting bagi petugas di dalam gerakan Islam. Justeru kita sering bertembung dengan bebagai kesukaran, mehnah, ujian dan permasalahan di dalam berhadapan dengan musuh-musuh Islam. Firman Allah di dalam Surah At-Talaq:
( 2-3):ومن يتق الله يجعل له مخرجا . ويرزقه من حيث لا يحتسب
Maksudnya :“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya.” Ertinya, Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas Radhiallaahu anhu – dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat. Kedua, “Allah akan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Ertinya, Allah akan memberinya rezki yang tidak pernah ia harapkan dan angankan. Al-Hafiz Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rezki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya. Alangkah agung dan besar buah taqwa itu! Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu berkata: “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah: ”Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya”.
Ayat lainnya adalah firman Allah:

ولو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض , ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada me-reka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendus-takan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri". (Al-A’raf: 96).
Menurut Ibnu Abbas R.A, dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandainya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni iman dan taqwa, nescaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka mendapatkannya dari segala arah.
KEMENANGAN ISLAM DI TANGAN GENERASI TERBAIK
Sesungguhnya Islam akan menang di tangan generasi yang terbaik, yang taqwa adalah semestinya menjadi pra-syarat ke arah kemenangan yang diimpikan itu. Generasi yang terbaik adalah generasi yang memperaktikkan taqwa di dalam kehidupan mereka seharian, di dalam keluarga, organisasi dan perjuangan. Firman Allah di dalam surah al-Maidah : 35 :

يا أيها لذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا فى سبيله لعلكم تفلحون
Maksudnya: Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan yang boleh menyampaikan kepada-Nya (dengan mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya) dan berjuanglah pada jalan Allah, kamu pasti akan beroleh kejayaaan.
PENUTUP
Betapa pentingnya taqwa menjadi praktikal hidup kita. Dengan berbekalkan taqwa, kita akan menjadi mulia dan kita akan dibantu di dalam perjuangan. Bahkan dengan bermodalkan taqwa, kita akan berhasil mencipta sebuah kemenangan untuk perjuangan Islam yang sedang kita gerakkan ini. Allahu Akbar!!!

Tuesday, 7 October 2008

ISU EKONOMI DUNIA




Mutakhir ini kita melihat keruntuhan ekonomi dan pasaran saham serta kejatuhan bank-bank "gergasi Amerika". Dengan kata mudah faham Amerika menghadapi kejatuhan ekonomi dan kewangan yang parah dan merudum.

Perlu di ingat Amerika adalah ibu segala syaitan dan iblis di dunia. Walaupun Amerika negara polis dunia dan kayaraya serta penentu saham dunia yang dimonopoli oleh bangsa yahudi dengan sistem ekonomi kapitalis.

Sebuah bank dan klomograt perbankan di United Emired Arab (UEA) yang berpengkalan di Abu Dhabi menyelamatkan sebuah bank di Amerika dan puluhan cawangan di dunia "City Bank". Puluhan juta Amerika Ringgit telah dimasukkan kedalam bank tersebut". Puluhan "trillion" ringgit Malaysia digunakan untuk menyelamat syarikat besar yang berada di Amerika sekarang.
Selepas "11 September" Amerika yang zalim dan jahat menuduh puak fundimental Islam yang terlibat dalam aksi tersebut. Namun hanya propanganda sahaja. Yang sah terlibat dalam kes "11 September" ialah kerajaan Amerika dan zionis sendiri. Bermula dari situlah Amerika dan sekutunya menindas dan menyerang negara Islam atas dasar memburu penganas. Kerajaan Malaysia tidak terkecuali merestuinya.
Kejatuhan ekonomi dan sistem kewangan Amerika terbukti kegagalan sistem kapitalis ekonomi yang direka oleh manusia. Ekonomi Amerika semakin parah dan merudum atas kegagalan sistem yang direka untuk kepentingan individu.
Dunia ekonomi dan kewangan hari ini akan merudum malah dunia akan merasai satu kemelesetan ekonomi yang paling parah dalam dunia modern. Malaysia tidak terkecuali dan semua negara Islam dan dunia amnya akan kecundang sama dalam sistem ekonomi kapitalis.

Salah satu faktor kejatuhan sistem kewangan dan ekonomi Amerika sekarang berpunca penarikan saham dan penyimpan atau pendiposit dalam bank Amerika adalah penduduk negara timur tengah yang majoritinya Islam. Tamparan hebat kepada penduduk Amerika.

Semua sistem kewangan yang bersifat kapitalis adalah penipu dan di tentang oleh Islam. Hanya sistem Islam sahaja menyelamat umat dunia. Walaupun sehebat dan segagah dan secangih mana pun satu hari Islam akan menawan dunia dan alam semesta.

Sunday, 21 September 2008

BERHARI RAYA MENURUT SYARIAT ISLAM


`AIDUL FITRI berasal dari perkataan `aid, adalah diambil dari kata al-`audu (kembali), manakala fitrah membawa maksud kemurnian dan kesucian. Pada hari tersebut kaum muslimin kembali menikmati tahun kembalinya kebahagiaan dengan kemurnian dan kesucian, lantaran banyaknya anugerah Allah kepada hambaNya di hari itu.

Pada Hari Raya `Aidil Fitri, ummat Islam disunatkan menunaikan solat sunat Aidil Fitri secara berjamaah. Menurut Imam Taqiyuddin Al-Hussaini, dalam kitabnya Kifayatul Akhyar, bahawa Rasulullah s.a.w. pertama kali melakukan solat hari raya adalah Solat Hari Raya Aidil Fitri di tahun ke 2 Hijrah dan pada tahun itu juga telah difardukan Zakat Fitrah kepada ummat Islam, demikian pandangan Imam Al-Mawardi.

HUKUM SOLAT `AIDIL FITRI

Hukum menunaikan solat Hari Raya Aidil Fitri itu adalah sunat, hal ini berdasarkan pertanyaan seorang Arab Badwi ( A'rabi ) kepada Rasulullah : "Apakah ada kewajipan selain solat lima waktu ? Jawab Rasulullah : Tidak ada, melainkan ia dituntut melakukannya (tathawwu`a).

Solat Aidil Fitri hendaklah ditunaikan antara terbit matahari sehingga tergelincirnya matahari, menurut pendapat pertama. Pendapat yang kedua mengatakan bahawa belum masuk waktu apabila metahari belum naik kadar segalah. Qaul yang shahih adalah pendapat yang pertama.

Sembahyang Hari Raya, dilakukan dengan dua rakaat, kerana adanya dalil-dalil dan ijmak ulamak. Sembahyang Hari Raya Fitri atau Hari Raya Adha disertai pada rakaat pertama 7 kali takbir dan 6 kali tahmid. Pada rakaat kedua disertai pula 5 kali takbir dan 4 kali tahmid.

Diriwayatkan bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w bertakbir pada salat Hari Raya Fitri dan Hari Raya Adha pada rakaat yang pertama tujuh kali sebelum membaca Al-Fatihah, dan pada rakaat yang kedua lima kali sebelum membaca Al-Fatihah. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam At-Tarmizi dan beliau mengatakan bahawa martabat hadis ini hasan. Imam Bukhari mengatakan pada bab ini bahawa tidak ada hadis yang lebih sahih daripada hadis ini.

Di antara tiap-tiap dua takbir hendaklah berhenti sejenak sekira-kira cukup untuk membaca suatu ayat yang sederhana panjangnya dengan membaca tasbih, tahmid dan tahlil. Amalan berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Al- Baihaqi dari Ibnu Mas'ud yang berbentuk perbuatan (Hadis Fi'li). Tasbih ertinya membaca "Subhanallah". Tahmid ertinya membaca "Alhamdulillah". Tahlil ertinya membaca "Laa ilaaha illallaah wallahu Akbar ". Di dalam bacaan ini terkumpul bermacam-macam zikir yang diperintahkan di dalam salat. Bacaan ini juga dinamakan Al-baqiyatus Shalihat sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas dan sebahagian Ulama’. Seandainya seseorang imam terlupa bertakbir dan langsung membaca Al-Fatihah, maka hilanglah kesunnatannya.

Pada salat Hari Raya hendaklah imam membaca Al-Fatihah pada rakaat yang pertama, diikuti membaca pula Surah Qaaf selepasnya dan pada rakaat yang kedua membaca Surah Al-Qomar hingga akhirnya. Demikianlah menurut riwayat Imam Muslim.

Bacaan Al-Fatihah dan surah hendaklah dikuatkan bacaannya, kerana hukumnya sunnat menurut ijmak ulama'. Demikian pula digalakkan menguatkan bacaan takbir, tasbih dan tahmid.

Setelah salat selesai disunatkan berkhutbah dengan dua khutbah, berdalilkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu `Umar r.a : "Bahawasanya Rasulullah s.a.w, Abu Bakar dan Umar selalunya melaksanakan Salat Hari Raya sebelum khutbah "

Jadi seandainya imam berkhutbah sebelum salat, maka khutbahnya itu tidak dianggap sah menurut qaul yang sahih yang dinaskan oleh Imam Syafi'i. Pengulangan khutbah itu diqiaskan dengan khutbah Jumaat. Dalam masalah ini tidak ada hadis yang tetap menurut kata Imam An-Nawawi di dalam kitab Al- Khulasah.

Pada khutbah yang pertama disunatkan memulainya dengan takbir sembilan kali, manakala pada khutbah yang kedua disunatkan memulai dengan takbir tujuh kali.

TEMPAT MELAKSANAKAN SOLAT `AIDIL FITRI

Salat Hari Raya itu boleh dilakukan tempat lapang. Jika solat `Aidil fitri dilakukan di Makkah, maka di Masjidil Haram adalah lebih utama, tanpa ada khilaf. Syeikh As-Shaidalani menyamakan kedudukan taraf Masjid Al-Aqsa, Baitul Maqdis dengan Masjidil Haram. Bagi tempat selain Makkah, adalah lebih baik dilakukan di tempat lapang, terutamanya ketika keadaan masjid yang penuh sesak, bahkan ketika itu (masjid penuh sesak) adalah manjadi makruh sembahyang di masjid, menurut sesetengah pendapat ulama' Syafi`iyyah. Jika ada keuzuran seperti hujan, maka di masjid adalah lebih utama. Akan tetapi jika masjid luas dan mampu menampung keseluruhan jemaah yang hadir, maka mendirikan di masjid adalah lebih utama menurut pendapat yang sohih.

PERLAKSANAAN TAKBIR

Disunatkan bertakbir dan bertahmid, bermula waktu terbenam matahari (maghrib) pada kedua-dua malam Hari Raya `Aidil fitri dan `Aidil Adha. Adalah menjadi suatu `ibadah yang sunat, untuk dilaungkan di masjid, rumah atau di pasar-pasar, supaya dalam keadaan bersesak itu orang ramai akan turut serta bertakbir dan bertahmid bersama. Bahkan digalakkan setiap masa samada ketika waktu malam mahupun waktu siang. Semua golongan samada yang bermukim mahupun yang musafir digalakkan bertakbir dan bertahmid kerana ia adalah syi`ar yang utama bagi umat Islam.

Hal ini telah difirmankan oleh Allah s.w.t. : " Dan hendaklah kamu sekelian mengagungkan Allah atas apa yang telah ditunjukkan oleh Allah kepada kamu sekalian." (Al-Baqarah : 185)

Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadis Ummu `Athiyah, beliau berkata : " Kami sekalian diperintahkan keluar pada solat dua hari raya sehingga wanita yang haid pun keluar, kemudian menempatkan diri di belakang kaum muslimin, mereka turut bertakbir mengiringi takbir kaum muslimin ".

Sementara dalil takbir bagi Hari Raya `Aidil Adha, hanya diqiaskan dengan Hari Raya `Aidil Fitri. Berakhirnya takbir untuk Hari Raya `Aidil Fitri adalah apabila imam telah takbiratul ihram Solat Sunat Hari Raya, menurut qaul yang shahih.

Apakah takbir itu disunatkan sesudah solat-solat fardu pada Hari Raya `Aidil Fitri? Dalam hal ini terdapat khilaf di kalangan ulama' Syafi`iyyah. Di dalam kitab Ar-Raudhah, Imam An-Nawawi berpandangan bahawa, menurut pendapat yang ashah amalan bertakbir sesudah solat-solat fardu pada Hari Raya `Aidil Fitri tidak disunatkan, disebabkan tidak ada riwayat yang menyatakannya. Di dalam kitab Al-Azkar, Imam An-Nawawi mensahihkan bahawa sesudah solat-solat fardu pada Hari Raya `Aidil Fitri disunatkan bertakbir, sama seperti amalan di Hari Raya `Aidil Adha. Takbir dan tahmid pada ketika waktu tersebut adalah lebih utama daripada zikir-zikir yang lain, kerana takbir itu merupakan syi`ar Hari Raya.

Justeru itu, setiap ummat Islam hendaklah memastikan dan memelihara kesucian hari perayaan yang utama ini. Hari yang dipenuhi dengan kemurnian dan kesucian ini adalah merupakan anugerah kemenangan dari Allah s.w.t. kepada hambanya yang telah berjaya menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Sabda Rasulullah s.a.w. : Bagi orang yang berpuasa itu akan dikurniakan dua kegembiraan, kegembiraan ketika `Aidil Fitri dan kegembiraan ketika bertemu Allah s.w.t.

Thursday, 18 September 2008

Takwin Syakhsiyah Muslim

Pembentukan peribadi mulia.

Individu muslim merupakan satu susunan binaan untuk pembinaan sebuah masyarakat seluruhnya. Untuk mendapat binaan yang kukuh, seharusnya ia smengikut segala tuntutan yang sebenar yang dianjurkan oleh Islam di dalam kehidupannya. Sentiasa berada di dalam inayah Islam dalam setiap peringkat kehidupannya yang tidak lari dari segala syariat-syariat Islam kerana ia merupakan asas kepada keluarga dan masyarakat. Apabila baik peribadi setiap individu itu maka baiklah sesebuah keluarga itu dan apabila baik sesebuah keluarga itu maka baiklah pula masyarakat dan ummah.

Pembentukan peribadi setiap individu itu dari sudut Islam, tidak lari dari empat faktor penting yang dipetik dari Al Quran, ia merupakan syarat penting untuk terlepas dari kecelakaan dan kerugian di dunia dan akhirat. Ia terangkum sekitar surah yang biasa kita dengar yang biasa kita gunakan iaitu surah Al Asr .

Firman Allah Taala :

والعصر(1)إن الإنسان لفي خسر(2)إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وتواصوا بالحق وتواصوا بالصبر(3)

Syarat yang pertama untuk pembentukan peribadi mulia ialah Iman ( آمنوا ) yang merupakan asas pembinaan seluruhnya, ia merupakan perkara yang terpenting dan kedudukan yang sangat besar di dalam kehidupan manusia, ia dapat membina kedudukan dan memberi kesan yang tinggi kepada kehidupan individu dan masyarakat. Ia juga memberi pemikiran yang sahih serta membetulkan tasawwur sebenar insan terhadap dirinya, alam dan kehidupan, juga terhadap tuhan kepada alam, kehidupan dan insan itu sendiri. Jika sekiranya tasawwur ini rosak maka rosaklah kehidupan individu itu seluruhnya, rosak segala amalannya, rosak akhlak dan perhubungannya.

Sahnya tasawwur itu sekiranya setiap individu itu mereka tahu matlamat kewujudannya di muka bumi ini dan tahu akan tujuan kehidupannya. Semestinya mereka ini tahu tujuan dan matlamat kehidupan hidup di muka bumi ini kerana banyak kajian telah dilakukan oleh pakar pengkaji masyarakat dan didapati, kecelaruan hidup manusia hari ini berpunca daripada kegagalan manusia memahami hakikat mengapa mereka dihidupkan dan kurang memahami bagaimana mengurus kehidupan mereka dengan sempurna.

Firman Allah taala :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِي(56)
Maksudnya : “Tidakku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku”.

FirmanNya lagi :
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Maksudnya: " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia itu sebagai khalifah di muka bumi ini ".

Tujuan manusia dijadikan oleh Allah adalah untuk “beribadah” kepada Nya. Bagaimana hendak melaksanakan tuntutan ini, maka Allah menyebut, bahawa Ia menjadikan manusia sebagai “Khalifah” di muka bumi ini. Bagaimana seorang khalifah/manusia ingin berperanan demi melaksanakan tuntutan beribadah kepada Allah? Sudah tentu ada kaedah dan tatacaranya yang boleh memandu manusia berbuat demikian. Ibadah dalam konteks yang luas bukan sekadar kita melaksanakan solat semata-mata, malahan ibadah merangkumi segala aspek perlakuan kita yang semata-mata dilakukan demi mencari keredhaan Allah. Apabila kita memahami hakikat ini, insyaalah setiap muslim itu boleh menyusun kehidupan mereka dengan lebih baik dan sempurna.

Syarat yang keduanya ialah amal soleh ( عملوا الصالحات ). Ia merupakan buah kepada keimanan itu sendiri. Iman itu bukanlah sekadar apa yang dapat dikesan oleh pemikiran dan tindak balas perasaan tetapi ia merupakan hakikat yang merangkumi secara menyeluruh baik dari segi makrifahnya, tindak balas mahupun tarikan yang membuatkan manusia ini melakukan perkara-perkara makruf dan meninggalkan kejahatan, beramal dengan perkara kebaikan ini amatlah dituntut oleh Islam.

Al Quran tidak menghadkan setiap kebaikan (الصالحات ) itu dengan sesuatu atau perkata tertentu sahaja dan juga tidak kepada gambaran yang terhad bahkan ia menggambarkan satu gambaran yang syumul, secara menyeluruh pada setiap apa yang baik bagi manusia itu dari segi dunia dan dirinya, peribadi dan masyarakat, juga baik dalam kehidupan mereka samada dari segi kebendaan dan kerohanian, ibadah dan muamalah ataupun dari segi adab dan akhlak. Al Quran juga menyarankan kita agar beramal pada setiap apa yang terkandung di dalamnya.

Sesunguhnya Allah Taala ketika mana ia memuliakan ilmu itu semestilah ianya di ikuti dengan beramal apa yang diketahui. Amal itu merupakan ketakwaan kepada Allah dan takut kepadaNya serta melakukan apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang.
Berkata Sufian Al Thauri :
" إنما يتعلم ليتقى به الله , وإنما فضل العلم على غيره لأنه يتقى به الله ".

Sesungguhnya tidak bermaknalah setiap ilmu itu sekiranya ia tidak diserta amal dengannya. Tidakkah kita lihat firman Allah Taala dalam Al Quran :

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ(5)

Ibnu Katheer berkata dalam tafsirnya bahawa ayat ini merupakan kecaman terhadap orang yahudi yang mana mereka ini dikurniakan kitab Taurat, dibawanya kepada mereka untuk beramal tetapi mereka tidak beramal dengannya, Allah Taala telah membuat perumpamaan kepada mereka seperti khimar membawa bendela iaitu seperti khimar, apabila membawa kitab sedangkan ia tidak tahu apa yang terkandung di dalamnya, ia membawanya dengan sia-sia tanpa tahu apakah yang terdapat di atasnya. Begitulah perumpamaan bagi mereka yang dikurniakan kepadanya kitab, mereka menghafal lafaz-lafaznya tetapi tidak cuba untuk memahaminya dan tidak beramal dengannya bahkan cuba untuk menyeleweng dan menukarkannya, mereka ini adalah lebih buruk keadaan daripada khimar kerana khimar memang tidak memahami apa-apa tetapi mereka ini faham tetapi tidak beramal dengannya.

Syarat yang ketiga pula ialah berpesan-pesan pada kebenaran (وتواصوا بالحق ), kalimah berpesan-pesan itu ( التواصي ) menunjukkan perkara yang dibuat di antara dua belah pihak iaitu setiap individu itu mestilah berpesan-pesan atau mengajak orang lain ke arah kebenaran dan ia menerima segala pesanan itu. Ini menunjukkan sesungguhnya Al Quran tidak menggambarkan keadaan mukmin itu melainkan dengan bermasyarakat yang saling mengambil dan memberi, bukannya sekadar sebagai rahib yang hanya duduk menyendiri di tempat sunyi serta terpisah dari masyarakat. Seharusnya kita menyeru masyarakat apa yang diketahui daripada kebenaran dan petunjuk sekiranya kita tidak mahu dikatogarikan sebagai mereka-mereka yang menyembunyikan apa yang diturunkan oleh Allah Taala yang terdiri dari petunjuk dan keterangan- keterangan sebagaimana firman Allah dalam surah A-li Imran :

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ ...

Ertinya : Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil perjanjian setia dari orang-orang yang telah diberikan Kitab (iaitu): "Demi sesungguhnya! Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada umat manusia, dan jangan sekali-kali kamu menyembunyikannya".

Syed Qutb pernah berkata : “Sesungguhnya kerja-kerja dakwah dijalankan semata-mata untuk menuju kepangkuan Ilahi, bukan untuk kepentingan diri dan puak. Jadi seseorang individu itu tidak lain tidak bukan, hanyalah menunaikan kewajipan yang diamanahkan oleh Allah Taala. Bukanlah semata-mata ingin mencari populariti diri, bukan sekadar ingin memburu kemenangan melalui dakwah yang disampaikan; dan bukan semata-mata untuk kepentingan tertentu dari orang yang menjadi sasaran dakwahnya. Kita hanya dituntut supaya melaksanakan tugas dakwah dan menyerahkan balasan dan ganjaran amal kepada Allah sahaja”.

Menyeru kearah kebenaran ini merupakan perkara yang agak penting, lebih-lebih lagi ketika mana kita sekarang ini berada di kelompok masyarakat yang agak membimbangkan, di saat manusia hilang harga dirinya, maksiat berleluasa, hukum Allah menjadi bahan permainan. Kehilangan usaha dakwah ini membuka peluang kepada musuh-musuh Allah dan juga musuh-musuh kebaikan yang terdiri dari syaitan dan jin untuk menyebarkan kebatilan dan kefasadan mereka.

Tidak sempurna seseorang muslim itu hanya sekadar baik peribadinya sahaja, sempurna keimanannya, betul ibadahnya tetapi ia meletakkan kebenaran itu di tempat yang agak bawah, membiarkan kebatilan berleluasa, kebenaran terpinggir, kemungkaran teserlah sedangkan ia duduk diam tidak cuba untuk bergerak, tidak cuba untuk bersuara, tidak cuba untuk berjihad. Ingatlah ! sesungguhnya muslim itu semestinya hidup sebagai ‘tentera kebenaran’, beriman dengannya, menyukainya, menolongnya dan mengajak ke arahnya. Ia merupakan asas fardiah ‘amal makruf dan nahi mungkar’.

Syarat yang keempat pula ialah berpesan-pesan kepada kesabaran ( (وتواصوا بالصبرiaitu kesinambungan dari syarat yang ketiga. Setelah kita membawa risalah kebenaran semestinyalah kita akan menghadapi segala mehnah dan tribulasi yang mendatang, ini memerlukan kepada kesabaran yang sebenar-benarnya.
Berkata Lukman Al Hakim kepada anaknya :
يا بني أقم الصلاة وأمر بالنعروف وانه عن لامنكر واصبر على ما أصابك إن ذلك من عزم الأمور.
Maksudnya : “Wahai anakku, dirikanlah sembahyang, serulah kepada kebaikan dan bersabarlah atas segala bala bencana yang menimpamu”.

Allah Taala menggesa hambanya agar sentiasa bersabar serta menguatkan kesabaran di dalam melakukan amal kebajikan, juga di medan pertempuran.
FirmanNya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(200)
Ertinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)”.

Menurut Ustaz Abdullah Naseh ‘Ulwan, ‘As-Sabr’ : kekuatan jiwa dan rohani yang menjadi benteng kepada individu itu dan membolehkannya menangkis, sebab-musabab yang membawa kepada lemah dan lumpuhnya keazaman, kelemahan diri, sewenangnya menyerah kalah. Jesteru itu, ia harus tabah, kukuh dan utuh serta meneguhkan pendirian dalam berhadapan dengan fitnah, godaan, mehnah dan tribulasi.

روى الشيخان عن النبي صلى الله عليه وسلم : يا أيها الناس لا تتمنوا لقاء العدو واسألوا الله تاعافية فإذا لقيتموهم فاصبروا واعلموا أن الجنة تحت ظلال السيوف.
Maksudnya : Bukhari dan Muslim meriwayatkan daripada Rasulullah S.A.W : Wahai Manusia, janganlah kamu mencari musuh, pohonlah daripada Allah kesejahteraan. Akan tetapi, apabila kamu bertemu dengan musuh hendaklah kamu bersabar, ketahuilah bahawa syurga adalah di bawah bayangan mata pedang.

Ibnu Abbas menjelaskan : Sebahagian daripada hakikat Iman itu adalah sabar. Sabar adalah suatu kemestian dan ia merupakan sebahagian daripada Iman, manakala sebahagian yang lain adalah syukur. Sesiapa yang terdedah kepada tribulasi atau mendapat kesenangan, berada dalam kemiskinan atau kekayaan, maka perkara utama yang perlu mereka lakukan ialah bersabar dan redha, seterusnya ia hendaklah bersyukur. Hanya orang mukmin yang sebenar sahaja yang memiliki sifat-sifat ini. Segala urusan mereka adalah baik. Orang-orang yang sabar mendapat ganjaran yang tidak terhitung banyaknya dari Allah Taala manakala orang yang bersyukur mendapat penambahan dariNya.

Inilah empat syarat atau empat perkara yang perlu ada di dalam diri setiap individu yang ingin mengislah diri agar membentuk peribadi mulia yang terangkum di sekitar surah yang agak pendek iaitu surah Al Asr.

Bukanlah peribadi mulia itu hanya sekadar menyendiri beribadah di dalam gua, mencari kebahagian akhirat semata dan meninggalkan kehidupan dunia, tetapi mereka yang beramal untuk dua kehidupan dan mengumpulkan dua kebaikan iaitu kebaikan dunia dan akhirat.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Maksudnya :"Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka".
Sesiapa yang hanya sekadar mencari akhiratnya semata tanpa menunaikan hak dunianya, sesungguhnya ia telah menyalahi perintah Allah Taala agar mengimarahkan dunia ini.

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Maksudnya: " Sesungguhnya Aku hendak menjadikan manusia itu sebagai khalifah di muka bumi ini ".


هُوَ أَنشَأَكُمْ مِنْ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
Maksudnya : “Dia lah yang menjadikan kamu dari bahan-bahan bumi, serta menghendaki kamu memakmurkannya”.

Sesunguhnya ia zalim ke atas dunianya dan zalim pada dirinya sendiri.
Sabda Rasulullah S.A.W :

إن ِلبَدَنِكَ عليكَ حَقاًّ, وإن لأهلِكَ عليك حَقاًّ.
Maksudnya : “Sesungguhnya engkau mempunyai hak ke atas badan engkau dan engkau mempunyai hak ke atas ahli keluarga engkau”.

Firman Allah Taala :
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنْ الرِّزْقِ
Maksudnya : “Katakanlah (wahai Muhammad): "Siapakah yang (berani) mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkanNya untuk hamba-hambaNya, dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal dari rezeki yang dikurniakanNya?”.

Sesiapa yang meletakan dunianya sebagai keinginan yang besar, sentiasa memikirkan tentang kemaslahatan dunia, perasaan dan pemikirannya sentiasa diselubungi oleh dunia, maka ia zalim dengan akhiratnya dan bakhil terhadap dirinya sendiri, tidak menghiraukan arah dan tujuan hidupnya.
Firman Allah taala :
فَأَمَّا مَنْ طَغَى(37)وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا(38)فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى(39)
Maksudnya : “Maka (dapatlah masing-masing mengetahui kesudahannya); adapun orang yang melampau (perbuatan derhakanya),Serta ia mengutamakan kehidupan dunia semata-mata,Maka sesungguhnya neraka Jahanamlah tempat kediamannya”.

Tidak syak lagi bahawa manusia ini mempunyai halatuju yang berbagai-bagai dan berbeza-beza bergantunglah, samada mereka terjun di dalam keseronokan dan syahwat dunia ataupun meningkat ciri-ciri keperibadian mereka kepada peribadi yang tinggi.

Kalau ditinggalkan manusia ini dengan tabiat dan naluri mereka sahaja nescaya darjat mereka lebih rendah dari binatang ataupun mereka akan terjerumus ke lembah kesesatan. Oleh itu pentingnya Ad Deen untuk menaikkan martabat mereka lebih tinggi dari malaikat seterusnya meletakkan mereka dari golongan yang bertakwa kepada Allah Taala.

Saturday, 12 July 2008

ASBABUN NUSRAH



Imam Al-Baihaqi mentakhrijkan dari jalan Al-Waqidy, dari Abu-Hurairah ra., dia berkata, "Aku ikut dalam perang Mu'tah. Ketika jarak antara kami dan orang-orang musyrik semakin dekat, kami bisa melihat jumlah pasukan yang amat banyak, membawa persenjataan lengkap, tameng, mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas.

Tsabit bin Arqam ra. berkata saat melihatku membelalakkan mata, "Wahai Abu Hurairah, sepertinya engkau sedang melihat pasukan yang besar." "Benar", jawabku. Dia berkata, "Engkau tidak bergabung bersama kami di Badr. Kami menang saat itu bukan karena jumlah kami yang banyak". (Al-Bidayah 4:244, Al-Ishabah 1:190)

Ahmad bin Marwan bin Maliky di dalam Al-Mujalasah, dari Abu Ishaq, dia berkata, "Tidak ada musuh yang bertahan lama jika berperang melawan para sahabat. Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, "Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?"

Mereka menjawab, "Ya".

"Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?"

"Kamilah yang lebih banyak jumlahnya dimanapun kami saling berhadapan".

"Lalu mengapa kalian boleh dikalahkan?"

Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, "Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kemi suka minum arak, berzina, melakukan hal-hal yang haram, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, melarang hal-hal yang diridhai Allah dan berbuat kerusakan di bumi".

Heraklius berkata, "Engkau membuatku percaya".


Sebab Kemenangan

Umar ra. telah melantik Atbah bin Ghazwan sebagai panglima perang pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Parsi. Pada ketika itu beliau telah memberikan perintah.

"Senantiasalah menjaga ketaqwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan apabila memberi keputusan. Kerjakan sholat pada waktu yang ditentukan dan berzikirlah memuji Allah sebanyak-banyaknya dan selalu".

Satu ketika terdapat seorang tawanan Romawi di dalam penjagaan orang-orang Islam. Terjadi satu keadaan dimana dia telah dapat meloloskan diri dan lari. Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan orang-orang Islam dengan mendalamnya supaya seluruh kehidupan mereka nampak jelas dihadapannya. tawanan ini juga melaporkan perkara yang sama dan menerangkan bahwa orang-orang itu adalah ahli ibadat diwaktu malam dan kesatria (da'i) disiang harinya. Orang-orang Islam itu juga tidak mengambil sesuatu walaupun daripada Dhimmi (orang-orang kafir yang dibawah lindungan mereka) tanpa membayar harganya dan apabila mereka berjumpa, mereka memberi dan menjawab salam. Heraklius menjawab dengan cepat dan tajam bahwasanya jikalau laporan itu benar dan tepat, maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaan Heraklius.

Heraklius mempunyai jumlah tentera yang sangat banyak sedangkan jumlah orang-orang Islam sangat terbatas. Amr bin al-'As ra. memberitahu Abu Bakar Siddiq ra. mengenai keadaan tersebut. Sebagai jawabannya Abu Bakar ra. menulis:
"Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kamu terlibat didalam dosa-dosa".

Sunday, 18 May 2008

PERANAN GERAKAN DAKWAH DALAM MEMBINA MANHAJ ISLAMI

ISLAM merupakan satu landasan hidup. Beramal dengan Islam bererti melahirkan individu yang mencerminkan akidah dan akhlak Islam, melahirkan masyarakat yang berpegang teguh dengan pemikiran dan cara hidup (manhaj) yang dibawakan oleh Islam, menegakkan sebuah daulah atau pemerintahan yang melaksanakan Islam sebagai syariat perundangan, peraturan dan perlembagaan hidup serta memikul amanah dakwah yang menjadi petunjuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.
Seluruh amal ini merupakan suatu tuntutan daripada syarak dan ia menjadi kewajipan ke atas setiap diri individu Muslim sehinggalah tertegaknya satu kuasa yang dapat mengendalikan tanggungjawab ini dan memelihara urusan kaum Muslimin sepenuhnya sebagaimana yang disebutkan oleh Allah melalui firman-Nya yang bermaksud:
“(Iaitu) orang-orang yang jika Kami berikan mereka kekuasaan memerintah di muka bumi nescaya mereka mendirikan sembahyang serta memberikan zakat, dan mereka menyuruh berbuat kebaikan serta melarang dari melakukan kejahatan dan perkara yang mungkar. Dan (ingatlah) bagi Allah jualah kesudahan segala urusan” - (Al-Hajj: 41).
Beramal untuk Islam wajib dilihat dari sudut hukum kerana pelanggaran dan pencabulan ke atas syariat Allah di muka bumi telah mewajibkan umat Islam untuk bangun dan bekerja ke arah menegak serta mengembalikan semula tatacara hidup yang dibawakan oleh Islam. Amal ini tidaklah pula terbatas setakat itu, bahkan menjadi wajib ke atas setiap diri Muslim untuk bekerja supaya manusia seluruhnya tunduk mengabdikan diri kepada Allah di dalam iktikad keyakinan, akhlak dan sistem hidup mereka sebagaimana firman-Nya yang bermaksud: “Maka demi Tuhanmu (wahai Muhammad), mereka (pada hakikatnya) belum lagi beriman hinggalah mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima keputusan itu dengan sepenuhnya” - (An-Nisa’ : 65).
Apabila menegakkan masyarakat Islam dan melaksanakan hukum-hukum yang diturunkan oleh Allah itu wajib hukumnya, maka kerja-kerja yang membawa kepada kewujudan masyarakat Islam dan terlaksananya hukum Allah itu turut menjadi wajib berdasarkan kepada kaedah syarak; ”Sesuatu perkara yang tidak dapat disempurnakan sesuatu yang wajib melainkan dengannya, maka ia menjadi wajib."
Tanggungjawab beramal dan bekerja untuk Islam ini sekiranya dilihat dari sudut kewajipan syarak adalah merupakan satu tanggungjawab ke atas setiap individu, iaitu sama seperti kewajipan-kewajipan dan tanggungjawab terhadap syariat yang lain. Justeru dalam membina kehidupan masyarakat dan memakmurkannya atas dasar kebenaran dan kebaikan, Islam meletakkan tanggungjawab tersebut mengikut batas dan kemampuan masing-masing, selama mana insan tersebut berada dalam keadaan baligh, berakal, sihat dan berkemampuan.
Sabda Rasulullah yang bermaksud: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, ia hendaklah mengubah dengan tangannya. Sekiranya tidak mampu (mengubah dengan tangan - kuasa), maka hendaklah ia mengubah dengan lidahnya (teguran dan nasihat), dan sekiranya tidak juga mampu, ia hendaklah mengubah dengan hatinya (yakni tidak rela dan benci dengan kemungkaran tersebut) dan demikian itu adalah selemah-lemah iman. Tidak ada lagi iman selepas tahap itu walaupun sebesar biji sawi.”
Dalam hadis lain Rasulullah selanjutnya bersabda lagi yang bermaksud: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah berfirman: Suruhlah (manusia) berbuat makruf dan cegahlah mereka dari kerja-kerja mungkar sebelum (tiba suatu waktu di mana) kamu meminta, Allah tidak lagi menerimanya, dan kamu memohon pertolongan lalu Allah tidak menolong kamu lagi.”
Oleh kerana beramal dan bekerja untuk Islam merupakan satu kewajipan individu dari sudut syarak, maka ia juga merupakan satu kewajipan secara jamaah (organisasi atau gerakan) dari sudut tanggungjawab dan perlaksanaannya.
Ini kerana sekiranya dilihat kepada tanggungjawab beramal dan bekerja untuk Islam itu, secara pasti tanggungjawab tersebut sangatlah berat untuk dipikul oleh orang perseorangan atau individu kerana matlamat utama amal Islami ialah meruntuh dan membebaskan diri daripada jahiliah hingga ke akar umbi.
Tugas berat ini sebenarnya menuntut pengorbanan yang tinggi, kemampuan dan kesungguhan yang tidak terbatas dan ini tidak mungkin mampu dipikul atau dilaksanakan oleh mana-mana individu sekalipun dengan memerah seluruh tenaga, kegigihan dan kesanggupan menghadapi segala dugaan dan rintangan.
Sebaliknya tanggungjawab ini hanya mampu dipikul atau dilaksanakan oleh satu perkumpulan atau pergerakan yang tersusun rapi (tanzim haraki), memiliki kadar kemampuan yang setimpal dari sudut kesedaran, penyusunan dan kekuatan dalam menghadapi suasana jahiliah yang wujud serta menyeluruh dari sudut kualiti dan kuantiti dalam menghadapi segenap peringkat amal, suasana persekitaran serta kemungkinan-kemungkinan perkara yang mendatang.
Bahkan terdapat dalil yang jelas dari al-Quran dan al-Sunnah yang menuntut supaya amal ini dilakukan secara perkumpulan atau jamaah yang tersusun kemas (tanzim haraki). Firman Allah yang bermaksud: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” - (Al-Ma’idah: 2).
Sementara Rasulullah pula dalam sabdanya pernah menyebutkan: “Sesungguhnya serigala itu (musuh-musuh Islam) hanya akan dapat memakan kambing (umat Islam) yang tersisih dari kumpulannya.”
Berdasarkan kepada nas tersebut, nyatalah kewujudan gerakan dakwah (jamaah) untuk menegakkan kebenaran dan menentang arus kebatilan adalah merupakan suatu fardu dan wajib didokong atau disertai oleh seluruh umat Islam.
As-Syahid Syed Qutb dalam satu tulisannya pernah berkata, sesungguhnya masyarakat itu tidak akan dapat ditegakkan kecuali bila ada satu perkumpulan manusia (jamaah atau organisasi) yang mengakui pengabdian diri mereka sepenuhnya kepada Allah dan mereka tidak tunduk atau merendahkan diri ke peringkat yang sejajar dengan pengabdian itu kepada sesuatu apapun selain daripada Allah sama ada di dalam perkara iktikad, gambaran hidup atau lambang-lambang keagamaan dan tidak pula tunduk atau merendahkan diri kepada yang lain daripada Allah di dalam urusan peraturan hidup atau perundangan. Sebaliknya mereka bertindak menyusun hidup dengan dasar, asas pengabdian diri dan ketundukan yang sejati kepada Allah disamping membebaskan peraturan atau undang-undang hidup mereka daripada sebarang sumber pengambilan yang lain daripada Allah.
Daripada apa yang disebutkan oleh as-Syahid Syed Qutb itu nyatalah bahawa sebelum difikirkan kepada soal mewujudkan sistem masyarakat (manhaj) Islam, adalah perlu dititik beratkan dahulu kepada soal kebersihan atau keimanan pada setiap hati nurani si Muslim, di mana mereka mestilah membebaskan diri dari mengabdikan kepada yang lain daripada Allah, seterusnya bertindak dan berkumpul dalam satu pergerakan atau jamaah yang bebas dari dibelenggu oleh jahiliah serta ikatan kesyirikan dan kemunafikan. Ketika itu barulah perkumpulan atau jamaah itu menjadi sebuah pergerakan Islam dan pembentukan masyarakat hasil dari gerak dakwah tersebut barulah sah menjadi sebuah masyarakat Islam.
Wallahua'lam.

Thursday, 15 May 2008

Kontrak sosial (Malaysia)

Kontrak sosial di Malaysia merujuk kepada perjanjian oleh bapa-bapa kemerdekaan negara dalam Perlembagaan, dan merupakan penggantian beri-memberi atau quid pro quo melalui Perkara 14–18 yang berkenaan dengan pemberian kewarganegaraan Malaysia kepada orang-orang bukan Melayu, dan Perkara 153 yang memberikan hak istimewa rakyat kepada mereka daripada kaum bumiputera. Istilah ini juga kekadang digunakan untuk merujuk kepada bahagian-bahagian yang lain dalam Perlembagaan, seperti Perkara yang mengatakan bahawa Malaysia adalah sebuah negara sekular.
Dalam konteks biasa yang berkaitan dengan hubungan ras, kontrak sosial telah kerap kali dibidaskan, termasuk juga oleh ahli-ahli politik dalam kerajaan campuran Barisan Nasional yang menegaskan bahawa tidak habis-habis bercakap tentang hutang orang-orang bukan Melayu kepada orang-orang Melayu terhadap kewarganegaraan yang diberikan telah merenggangkan golongan-golongan bukan Melayu daripada negara mereka. Kritikan-kritikan seumpama ini telah ditentang oleh media Melayu dan Pertubuhan Kebangsaan Melayu Bersatu (UMNO), parti politik yang terbesar dalam Barisan Nasional. Banyak orang Melayu, biasanya daripada UMNO, telah mempergunakan kontrak sosial ini untuk mempertahankan prinsip Ketuanan Melayu.
Syarat-syarat kontrak
Perlembagaan Malaysia tidak merujuk kepada sebuah "kontrak sosial" (dari segi hak kewarganegaraan dan hak istimewa) secara ketara, dan tidak terdapat sebarang undang-undang atau dokumen yang pernah menjelaskan syarat-syarat kontrak sosial secara penuh. Pembela-pembelanya sering merujuk kepada Perlembagaan sebagai mengemukakan kontrak sosial, dan bapa-bapa kemerdekaaan juga bersetuju dengannya, walaupun rujukan kepada kontrak sosial tidak dibuat dalam Perlembagaan. Sebaliknya, kontrak sosial biasanya dianggap sebagai suatu persetujuan yang memberikan kewarganegaraan kepada orang-orang bukan Melayu dan bukan orang asli (kebanyakannya orang Malaysia Cina dan Malaysia India) sebagai ganti untuk pemberian hak keistimewaan kepada orang-orang Melayu dan orang-orang asli (dirujuk secara kolektif sebagai Bumiputera). Sebuah buku teks kajian Malaysia pendidikan tinggi yang menepati sukatan pelajaran kerajaan mengatakan: "Oleh sebab pemimpin-pemimpin Melayu bersetuju untuk melonggarkan syarat-syarat kewarganegaraan, pemimpin-pemimpin komuniti Cina dan India telah menerima kedudukan istimewa Melayu sebagai penduduk asli Malaya. Dengan penubuhan Malaysia, status kedudukan istimewa itu diperluas untuk merangkumi komuniti-komuniti penduduk asli Sabah dan Sarawak." [1]
Perlembagaan secara ketara memberikan tanah rizab Bumiputera, kuota dalam perkhidmatan awam, biasiswa dan pendidikan awam, kuota untuk lesen perniagaan, dan kebenaran untuk memonopoli industri-industri yang tertentu, jika kerajaan membenarkan. Bagaimanapun pada hakikatnya, khususunya selepas pengenalan Dasar Ekonomi Baru Malaysia (NEP), akibat rusuhan kaum pada 13 Mei 1969 ketika kaum Melayu hanya memiliki 4% daripada ekonomi Malaysia, hak-hak istimewa Bumiputera diperluas kepada bidang-bidang yang lain; kuota-kuota ditentukan untuk ekuiti Bumiputera dalam perbadanan awam, dan diskaun-diskaun sebanyak 5% hingga 15% untuk membeli kereta dan harta tanah diberikan.
Setengah-setengah orang mengatakan bahawa kecondongan terhadap orang-orang Melayu dalam pendidikan dan politik sebahagiannya merupakan tindak balas terhadap keupayaan orang-orang Malaysia Cina untuk memperoleh kebanyakan kekayaan negara itu. Bagaimanapaun, orang-orang Malaysia India boleh mengemukakan hujah bahawa merekalah yang mengalami kerugian yang paling banyak, walaupun ini boleh dipertikaikan.
Kerajaan ada mengundurkan sistem kuota untuk kemasukan ke universiti-universiti awam pada 2003 dan memperkenalkan dasar "meritokrasi". Bagaimanapun, sistem baru ini dikritik secara meluas oleh orang-orang bukan Bumiputera kerana hanya memanfaatkan kaum Bumiputera yang ditempatkan dalam rancangan matrikulasi yang menonjolkan kerja kursus yang agak mudah sedangkan orang-orang bukan Bumiputera terpaksa mengambil Sijil Tinggi Persekolahan Malaysia (STPM). Walaupun secara teori, orang-orang bukan Bumiputra boleh masuk aliran matrikulasi, ini jarang berlaku pada hakikatnya. Meritokrasi juga dikritik oleh sebilangan pihak dalam UMNO sebagai berdiskriminasi kerana ia mengakibatkan orang-orang Melayu luar bandar terkebelakang dalam kadar kemasukan universiti.
Suruhanjaya Reid yang menyediakan kerangka Perlembagaan menyatakan dalam laporannya bahawa Perkara 153, tulang belakang kontrak sosial, adalah bersifat sementara, dan menyesyorkan bahawa ia dikaji semula 15 tahun selepas kemerdekaan. Suruhanjaya juga menyatakan bahawa perkara itu dan peruntukan-peruntukannya hanya diperlukan untuk mengelakkan keadaan tiba-tiba yang tidak menguntungkan kepada orang-orang Melayu dalam persaingan dengan ahli-ahli masyarakat Malaysia yang lain, dan hak-hak istimewa yang diberikan kepada orang-orang Melayu oleh perkara itu harus dikurangkan secara beransur-ansur dan akhirnya dihapuskan. Bagaimanapun, disebabkan Peristiwa 13 Mei yang menyebabkan pengisytiharan darurat, tahun 1972 yang merupakan tahun kajian semula Perkara 153 berlangsung tanpa sebarang peristiwa.
Menurut penyokong-penyokong kontrak sosial, sebagai balasan untuk enakmen peruntukan-peruntukan yang pada asalnya bersifat sementara, orang-orang Malaysia bukan Melayu diberikan kewarganegaraan di bawah Bab I Bahagian III dalam Perlembagaan. Kecuali hak-haki istimewa Bumiputera, orang-orang bukan Bumiputera dianggap sebagai sama saja dengan orang-orang Bumiputera dan diberikan semua hak kewarganegaraan di bawah Bahagian II dalam Perlembagaan. Pada tahun-tahun kebelakangan ini, sebilangan orang telah mencuba untuk membekalkan warganegara-warganegara Melayu dengan lebih banyak hak politik menurut falsafah ketuanan Melayu. Kebanyakan penyokong ketuanan Melayu memperdebatkan bahawa hak-hak tambahan ini telah ditulis dalam undang-undang dan hanya perlu dipertahankan daripada pembangkang-pembangkang.
Apabila mengambil alih jawatan presiden UMNO, Tunku Abdul Rahman (kemudian menjadi Perdana Menteri Malaysia pertama) menyatakan bahawa "...apabila kami (orang-orang Melayu) menentang Malayan Union (yang menjejaskan kedudukan hak-hak orang Melayu), kaum-kaum lain tidak mengambil bahagian kerana mereka mengatakan ini hanya merupakan masalah Melayu, dan bukan masalah mereka. Mereka juga menunjukkan bahawa kesetiaan mereka adalah kepada negara-negara asal mereka dan oleh itu, menentang Laporan Barnes yang bertujuan untuk menjadikan bahasa Melayu menjadi bahasa kebangsaan. Jika kami menyerahkan orang-orang Melayu kepada orang-orang yang dikatakan orang Malaya ketika kerakyatan mereka masih belum ditakrifkan, kami akan menghadapi banyak masalah pada masa hadapan." Bagaimanapun, dia menambah bahawa "Bagai mereka yang mencintai dan berasi bahawa mereka terhutang kesetiaan yang tidak berbelah bagi, kami menyambut mereka sebagai orang Malaya. Mereka harus merupakan orang Malaya yang benar, dan mereka akan mempunyai hak-hak dan hak-hak istimewa yang sama dengan orang-orang Melayu." [2]
Kritikan awal
Artikel 153, dan diterangkan oleh kontrak sosial, telah merupakan satu sumber kontoversi semenjak hari-hari mula bagi Malaysia. Ahli politik Singapura, Lee Kuan Yew (kemudian menjadi Perdana Menteri Singapura) Parti Tindakan Rakyat (PAP; cawangannya di Malaysia kemudiannya menjadi Parti Tindakan Demokratik atau DAP) secara umumnya mempersoalkan keperluan Artikel 153 dalam Parliamen, dan menyeru satu "Malaysian Malaysia". Mempersoalkan kontrak sosial , Lee telah menyatakan: "Merujuk kepada sejarah, orang Melayu telah mula untuk berhijrah ke Malaysia dalam bilangan yang banyak hanya kira-kira 700 tahun yang lalu. Dalam 39 peratus orang Melayu di Malaysia hari ini, kira-kira sepertiga secara perbandingan hanya imigran seperti setiausaha agung UMNO, Dato' Syed Ja'afar Albar, yang datang ke Malaya dari Indonesia sebelum perang ketika berumur lebih tiga puluh tahun.

Sunday, 11 May 2008

IMAM AL-BANNA & TARIQAT SUFI


Hari-hari Di Damanhur.


Kehidupan saya di Damanhur adalah dalam kehidupan beribadat dan amalan sufi (tasawwuf). Kehidupan manusia terbahagi kepada beberapa peringkat (tahap). Salah satu peringkat itu ialah zaman selepas pemberontak Mesir iaitu dari tahun 1920 sehingga 1923 M. Saya berumur tidak lebih dari 14 tahun ketika itu. Ia merupakan tahap kehidupan di mana saya tenggelam dalam ibadat dan amalan sufi. Namun begitu hal ini tidak menyekat saya dari terlihat dalam kegiatan yang menyentuh kepentingan negara.


Apabila saya tiba di Damanhur, saya terpengaruh dengan Tariqat Sufi Hasafiah. Kubur pengasasnya, iaitu Syed Hasnain Al-Hasafi berada di Damanhur. Ketua kami di situ adalah Haji Hilmi Sulaiman, seorang yang bertaqwa dan wara’. Kerana itulah di antara saya dan beliau ada satu hubungan rohani yang khas. Sahabat Haji Hilmi ialah Syeikh Hasan Khiz Bik, seorang guru di Damanhur. Syeikh Hasan mengadakan majlis-majlis ilmu agama di rumahnya. Beliau memberi kuliah mengenai kitab Ihya’ Imam Ghazali di masjid Al-Jaisy sebelum solat subuh, dalam bulan Ramadhan. Haji Hilmi selalu membawa saya ke majlis-majlis tersebut. Saya mendapati diri saya seorang yang kerdil dibandingkan dengan mereka yang hadir di majlis itu kerana mereka terdiri daripada alim ulamak.

Bermalam di Masjid Al-Jaish (atau Surau Khathathibah).


Usia saya yang sangat muda tidak menghalang saya dari selalu mendampingi para ulamak terkemuka termasuklah guru guru Maktab saya dan juga beberapa ulamak lain. Para ulamak terkemuka ini selalu mendorong para pemuda seperti saya ini supaya jalan kebenaran Islam dan supaya sentiasa bertawakkal kepada Allah. Inilah di antara sebab-sebab yang menimbulkan minat dan mendorong saya kepada amalan amalan sufi.


Saya tidak lupa perbincangan-perbincangan panjang lebar antara kami dengan guru kami, Syeikh Abdul Fattah Abu Alam. Beliau mengajar kami ilmu Fiqh, tafsir Al-Quran dan Hadith. Perbincangan berlaku apabila ada bangkangan terhadap amalan-amalan sufi. Syeikh Abdul Fattah akan senyum apabila sesuatu perbincangan sudah selesai. Beliau selalu mengesyorkan supaya mendalami ilmu Fiqh, sejarah dan ilmu Tasawwuf agar saya sendiri dapat memahami kebenaran. Kebenaran tidak boleh didapati tanpa perbincangan dan pengajian. Walaupun pendapat saya dan Syeikh Abdul Fatah kerap kali berbeza, namun begitu beliau tetap baik kepada saya dan membimbing saya dengan ikhlas. Perbincangan perbincangan kami terhad kepada sudut mencari kebenaran dan mengemukakan dalil-dalil yang logik (munasabah).

Berziarah Berhubungan.


Apabila kami berada di Damanhur pada setiap kali hari Jumaat, kami akan menziarahi kubur-kubur para wali Allah. Kadang-kadang kami melawat Dasuk. Selepas solat subuh, kami berjalan kaki ke Dasuk dan sampai di sana pada pukul 8.00 pagi. Jaraknya ialah dua puluh kilometer dan memakan masa tiga jam untuk sampai. Kami menghadiahkan Fatihah di kubur wali di situ. Selepas itu, kami menunaikan solat Jumaat. Kemudian kami makan dan berehat sebentar. Selepas solat Asar, kami pun memulakan perjalanan pulang dan sampai ke Damanhur ketika hampir waktu Maghrib. Kadangkala kami pergi ke Azbatul Nawam untuk menziarahi makam Syeikh Syed Saniar. Beliau adalah seorang anggota Tariqat Hasafiyah yang terkemuka. Dia terkenal sebagai seorang yang bertaqwa dan wara’. Kami berada di sana seharian dan pulang pada waktu malam.


Hari Untuk Berdiam Diri (Mengasingkan Diri)


Kami menetapkan beberapa hari tertentu untuk kami bersenyap dan menjauhkan diri dari manusia. Dalam tempoh tersebut, kami tidak akan bercakap antara satu sama lain kecuali untuk berzikir atau membaca ayat-ayat suci al-Quran saja. Ketika amalan ini berjalan, para penuntut lain mengambil peluang mengusik kami. Kerap kali mereka pergi bertemu Pengetua atau beberapa orang guru lain untuk melaporkan bahawa ada penuntut telah menjadi bisu. Guru yang menerima laporan akan datang untuk menyiasat keadaan kami Sebagai jawapan, kami pun membaca beberapa ayat suci al-Quran. Beliau pun berpuas hati dan beredar dari situ. Guru kami, Syeikh Farhat Salim menghormati tindakan kami bersenyap diri dan beliau memarahi penuntut-penuntut yang cuba mengusik kami. Dia juga mengarah guru-guru lain supaya jangan mengganggu kami dengan soalan-soalan ketika kami sedang bersenyap diri. Para guru sedar bahawa kami melakukannya bukan untuk mengelakkan diri dari pengajian atau peperiksaan kerana kami selalu berjaya mengatasi para penuntut lain ketika menuntut dan dalam menghadapi peperiksaan. Kami menjalankan amalan itu untuk beberapa waktu tanpa menyiasat pendapat Syara’ mengenainya. Kami melaksanakan amalan tersebut untuk tempoh tertentu kerana hendak mengelakkan diri perkara sia-sia dan untuk membina kecekalan diri.Kadangkala perkara ini meruncing dan menimbulkan kebencian di kalangan manusia sehingga mendorong kami untuk bersendirian. Saya sendiri menerima banyak pucuk surat dari rakan-rakan semaktab tetapi saya tidak berani membaca surat surat itu. Saya bimbang nanti surat-surat itu mengandungi sesuatu yang boleh melukakan hati saya. Seorang ahli sufi sepatutnya bebas dari kebimbangan sedemikian rupa. Dia berkewajipan memutuskan hubungan dari semua benda kecuali Allah. Dia mesti berusaha sedaya upaya untuk melaksanakan dasar ini.




bersambung........

Sunday, 27 April 2008

Hukum Menyertai Tariqat Sufiyah

Ditulis oleh Webmaster DUPP

Apakah hukumnya seseorang muslim itu terlibat dalam tarekat sufiah? Adakah tidak memadai kita menggunakan Al-Quran Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiah semata-mata?
Seringkali saya terfikir untuk melibatkan diri dalam tarekat kesufian ini, tapi tidak ada pihak yang saya yakini untuk membuat rujukan. Semenjak diperkenalkan ruangan Mimbar Ulama' ini, saya terpanggil untuk mengemukakan soalan tersebut. Terima kasih.

Abdullah Abdul Rahman,
Negeri Sembilan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Soalan yang dikemukakan ini agak hampir dengan satu soalan yang pernah dikemukakan kepada Mufti Kerajaan Mesir iaitu Prof. Dr. Ali Jumaah. Mimbar Ulama' akan cuba mengemukakan jawapan yang dinyatakan oleh beliau dan akan memberikan kesimpulannya, InsyaAllah.

Teks terjemahan:

Tasauf adalah manhaj tarbiyah ruhiyah dan sulukiyah yang mengangkat manusia kepada martabat ihsan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW yang bermaksud : "Hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olahnya kamu melihatnya, maka jika kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya dia (Allah SWT) melihatmu".

Maka tasauf itu merupakan program pendidikan (tarbiyah) yang menitik beratkan penyucian jiwa daripada pelbagai penyakit yang mendindingi manusia daripada Allah SWT. Ia juga membetulkan penyelewengan jiwa dan sulukiyah manusia dalam hubungan bersama Allah SWT, bersama yang lain dan juga dengan diri sendiri.

Tarekat sufiah pula ialah sebuah madrasah yang menyempurnakan melaluinya penyucian jiwa dan pembentukan peribadi. Syeikh pula sebagai pembimbing atau guru yang bersama-sama dengan muridnya.

Jiwa manusia secara tabiatnya terangkum di dalamnya pelbagai himpunan penyakit seperti takabbur, ujub, angkuh, keakuan, bakhil, marah, riya', sukakan maksiat, berkelakuan tak senonoh, gemar membalas dendam, kebencian, dengki, khianat, tamak dan rakus.

Firman Allah SWT yang mendedahkan kisah isteri Al-Aziz:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Yang bermaksud : "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Surah Yusuf: 53]

Kerana itulah, golongan terdahulu menginsafi hal ini dan menyedari betapa perlunya pentarbiyahan jiwa dan membersihkannya dari segala penyakit-penyakitnya agar (penyucian tersebut) bersekali dengan masyarakat serta mencapai kejayaan dalam perjalanan menuju tuhan mereka.

Tarekat sufiah hendaklah melengkapi dengan beberapa perkara.
Pertamanya ialah pegangan kukuh dengan kitab Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Ini kerana tarekat sufiah itu ialah manhaj kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap perkara yang bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka ia bukan daripada tarekat. Bahkan tarekat itu sendiri menolaknya dan melarang daripadanya.

Kedua ialah tidak meletakkan tarekat itu sebagai pengajaran yang terpisah daripada pengajaran syariah, bahkan ia merupakan intisari kepada syariah.

Bagi tasauf terdapat tiga elemen utama yang digesa oleh Al-Quran akan ketiga-tiganya iaitu :

1-Menitikberatkan jiwa, sentiasa mengawasi jiwa (muraqabah) dan menyucikannya daripada sebarang kekotoran.

Firman Allah SWT:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ، قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Yang bermaksud: "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10]

2-Memperbanyakkan zikrullah.

Firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Yang bermaksud : "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab: 41]
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Sentiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingati Allah SWT".

3-Zuhud di dunia, tidak terikat dengan dunia dan gemarkan akhirat.

Firman Allah SWT:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ
Yang bermaksud : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)

Adapun syeikh yang memperdengarkan kepada murid-muridnya akan zikir-zikir dan yang membantu usaha menyucikan jiwa dari sebarang kekotoran serta menyembuhkan hati mereka daripada penyakit-penyakit maka dia adalah penyelia (qayyim) atau seorang guru (ustaz) yang menunjukkan cara yang tertentu yang paling sesuai dengan penyakit yang ada atau keadaan murid itu sendiri.

Petunjuk Nabi SAW juga menasihatkan setiap manusia dengan perkara yang mendekatkan diri kepada Allah SWT berdasarkan kepada keadaan setiap jiwa yang berbeza. Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu dia berkata : Wahai Rasulullah ! Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang menjauhkan diriku daripada kemurkaan Allah SWT. Maka sabda Rasulullah SAW : Jangan kamu marah !. Dalam kes yang lain, Rasulullah SAW didatangi seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah SAW : Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang aku boleh berpegang dengannya ! Jawab Rasulullah SAW : Sentiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingati Allah SWT.

Di kalangan para sahabat terdapat golongan yang membanyakkan qiamullail, antara mereka juga yang memperbanyakkan bacaan Al-Quran, ada yang banyak terlibat dengan jihad, ada yang banyak berzikir dan ada yang membanyakkan bersedekah.
Perkara ini tidak membawa erti meninggalkan terus keduniaan. Tetapi di sana terdapat suatu ibadat tertentu yang memperbanyakkannya oleh orang yang melalui jalan menuju Allah SWT. Secara asasnya berbilang-bilangnya pintu-pintu syurga. Tetapi pada akhirnya walaupun ada kepelbagaian pintu masuk tetapi syurga tetap satu.

Sabda Nabi SAW yang bermaksud : "Setiap golongan yang melakukan amalan (baik dan soleh-ketaatan) ada satu pintu daripada pintu-pintu syurga yang memanggilnya oleh amalan, dan bagi puasa itu ada satu pintu yang memanggil golongan yang berpuasa, digelarkannya ar-rayyan".
Demikian juga tarekat-tarekat, ia mempunyai berbilang-bilang jenis berdasarkan syeikh masing-masing dan murid masing-masing. Antara mereka ada yang mengutamakan puasa, ada yang mengutamakan al-Quran lebih banyak dan tidak mengabaikan puasa dan demikianlah seterusnya.

Apa yang dijelaskan di atas adalah tasauf yang sebenarnya, tarekat yang sahih dan syeikh-syeikh yang komitmen dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Kita juga telah mengetahui kenapakah berbilang-bilangnya jenis tarekat, iaitu kerana kepelbagaian cara pentarbiyahan dan rawatan serta perbezaan cara untuk mencapai maksud yang dicita-citakan. Akan tetapi keseluruhannya satu sahaja pada maksud dan tujuan iaitulah keredhaan Allah SWT sebagai tujuan utama.
Kami juga ingin mengingatkan bahawa apa yang dinyatakan di atas tidak dilaksanakan oleh sebilangan besar golongan yang mendakwa sebagai ahli tasauf iaitu golongan yang merosakkan bentuknya. Mereka di kalangan orang yang tidak mempunyai agama dan kebaikan. Mereka yang melakukan tarian pada hari-hari perayaan dan melakukan amalan keghairahan yang khurafat. Ini semua bukan daripada tasauf dan bukan dari jenis tarekat sufiah. Sesungguhnya tasauf yang kami nyatakan tentangnya tiada hubungan langsung dengan pandangan kebanyakan manusia berhubung fenomena negatif yang memburukkan. Tidak harus juga bagi kita untuk mengenali tasauf dan menghukumkan ke atasnya dari kalangan sebahagian pendakwa-pendakwa tasauf yang jahil (yang mendakwa tarekat sebagai ajaran yang salah). Sepatutnya kita bertanyakan ulama' yang memilih tasauf sehingga kita memahami punca sanjungan mereka terhadap tasauf.

Untuk akhirnya, kami mengambil kesempatan ini untuk membantah pendapat golongan yang menyatakan : "Kenapakah tidak dipelajari adab-adab sulukiyah dan penyucian jiwa dari Al-Quran dan As-Sunnah secara langsung?".

Pendapat ini pada zahirnya terkandung rahmat. Tetapi pada hakikatnya terkandung azab. Ini kerana kita tidak mempelajari rukun sembahyang, sunat-sunat sembahyang dan perkara-perkara makruh dalam sembahyang dengan semata-mata melalui bacaan Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi kita mempelajarinya melalui suatu ilmu yang dikenali sebagai ilmu feqah.
Fuqaha' telah menyusunnya dan mengistinbatkan semua hukum-hakam tersebut daripada Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana pula lahirnya kepada kita mereka yang mendakwa bahawa kami mempelajari fiqh dan hukum agama daripada kitab dan sunnah secara langsung? Kami tidak pernah mendapati seorang ilmuan/ulama' yang mempelajari fiqh daripada kitab dan sunnah secara terus.

Demikian juga, di sana terdapat perkara yang tidak disebut oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi tidak dapat tidak daripada mempelajarinya dengan guru secara musyafahah (secara berdepan atau mengadap guru).

Tidak boleh sekadar melalui kitab, sebagai contohnya ilmu tajwid. Bahkan mestilah beriltizam dengan mustalah-mustalah yang khusus dengannya. Maka ulama' menyatakan sebagai suatu contoh : "Mad Lazim enam harakat" ! Siapakah yang menjadikannya sebagai mad lazim? Apa dalilnya dan siapakah yang mewajibkannya ke atas ummat Islam? Tentunya mereka adalah ulama' dalam bidang tersebut.

Begitu juga dengan ilmu tasauf. Ilmu yang diasaskan oleh ulama'-ulama' tasauf sebermula zaman Junaid rahimahullah dari kurun yang keempat sehingga hari ini. Ketika rosaknya zaman tersebut dan rosaknya akhlak, rosaklah juga sebahagian tarekat-tarekat kesufian. Mereka mula bergantung dengan fenomena-fenomena yang bercanggah dengan agama Allah SWT. Lantas manusia menganggap ianya merupakan tasauf. Sedangkan Allah SWT akan mempertahankan tasauf, ahlinya dan melindungi mereka dengan kekuasaannya.

Firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ
Yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat". [Al-Hajj: 38]

Mudah-mudahan apa yang dinyatakan itu dapat memberikan pendedahan kepada erti tasauf, tarekat, syeikh, sebab berbilang-bilangnya tarekat, kenapa kita mempelajari suluk, penyucian hati dari ilmu yang dikenali sebagai tasauf ini, kenapa kita ambil dari syeikh dan tidak terus kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Kita memohon kepada Allah untuk memperlihatkan secara jelas terhadap urusan-urusan agama kita.

(Tamat terjemahan teks asal berbahasa Arab)

Demikianlah terjemahan bebas daripada teks asal jawapan Sahibul Samahah Prof. Dr. Ali Jumuah, Mufti Kerajaan Negara Mesir yang dinaqalkan daripada Al-Bayan Lima Yashqholu Al-Azhan, cet. Al-Muqattam, Kaherah, hlm. 328-331.

Secara kesimpulannya, bagi hasrat baik saudara yang ingin melibatkan diri dalam tarekat kesufian ini, saudara hendaklah memastikan perjalanan atau program pentarbiyahan yang diperkenalkan oleh sesuatu tarekat itu tidak bercanggah dengan Al-Quran dan juga As-Sunnah An-Nabawiah.

Dalam konteks Malaysia, sebenarnya agak banyak dakwaan tarekat walhal sebenarnya ia adalah ajaran sesat. Justeru saudara perlu berhati-hati dan sering merujuk ulama' yang diiktiraf keilmuannya. Penyertaan dalam tarekat juga sepatutnya lebih menyemarakkan penglibatan dalam memartabatkan ketuanan Islam bukannya meruntuhkan ketuanannya seperti mendokong perjuangan Nasionalisme atau Sekularisme atau gerakan yang menentang perjuangan Islam.

Suasana pengamalan tarekat di Malaysia khususnya perlu diberikan perhatian bagi yang ingin menyertainya. Semestinya guru atau syeikh pemimpin tarekat itu merupakan seorang yang faqeh atau alim dalam bidang syariat dan aqidah. Bukannya seseorang yang hanya alim dalam bidang tasauf atau tarekat semata-mata. Ini kerana sebarang pengamalan beribadat dalam
agama hendaklah dipandu oleh Al-Quran dan juga As-Sunnah. Justeru, seorang guru yang alim tentang syariah, aqidah dan tasauf merupakan guru yang sepatutnya dipilih untuk membimbing kita.

Amat wajar jika saudara mengambil kesempatan yang ada dengan mendalami pengajian-pengajian agama secara berdisiplin mengikut kadar kemampuan yang ada pada saudara bagi meningkatkan pengetahuan agama serta tidak mudah untuk dipesongkan oleh golongan yang tidak bertanggungjawab.

Semoga hasrat baik saudara akan dibantu oleh Allah SWT.

Friday, 18 April 2008

Cerpan Dakwah 1

By Ukht PR
Adib menggerakkan kesepuluh jarinya ke belakang, menyisir rambut di kepala. Ikalnya seketika kusut. Wajahnya pula sedikit sugul. Satu helaan nafas panjang, menandakan kegelisahan hatinya, juga tatapan mata yang hanya berputar-putar tanpa ada titik perhatian yang bererti.
“ Aku penat, Muaz”, keluh Adib.Muaz, sahabat baik Adib yang sekarang menjadi ‘tong sampah’ menatap Adib dengan kasihan.“ Kau menyesal?”tanya Muaz.Adib mengangkat wajahnya. Matanya menerawang sesaat. Ragu.“ Entahlah. Kalau ya sekalipun…untuk apa lagi? Aku tidak mungkin akan meninggalkannya. Semua orang akan mentertawakanku, menghinaku”, keluh Adib lagi. “ Aku…”
“ Dia pilihan kau sendiri. Aku masih ingat lagi, kau cakap…kau terlanjur menaruh hati. Kamu berdua terlalu dekat. Sebab tu kau nak sangat berkahwin dengan dia. Malah kau berusaha sungguh-sungguh agar dia akrab dengan akhawat-akhawat yang sudah sekian lama berkecimpung dalam dakwah. Kau mengharap sangat dia menjadi seperti mereka, minimum mungkin, dan mula faham dunia itu. Kau juga menolak keras ketika aku dan juga sahabat-sahabat kita yang lain, bahkan ustaz sendiri, menawarkan pilihan lain”, Muaz seolah-olah mengingatkan kembali peristiwa itu.“ Ya, aku tidak lupa semua tu. Habis macam mana? Kami dah lama kenal, sama-sama menjadi ahli jawatankuasa belia kat kampung kami tu, dan terlanjur hubungan kami pula terlalu akrab. Malah aku terlanjur bertanya tentang kesudiannya menjadi pendampingku. Dia pula tidak menolak. Keluarganya pula sudah tahu kalau aku ni berniat untuk itu. Mereka tidak lagi menganggap kami ini sekadar teman biasa, tapi lebih dari itu. Habis…kalau aku berkahwin dengan orang lain macam mana pula…”, Adib menisir rambutnya lagi.
Muaz semakin kasihan. Ah, satu pelajaran paling berharga untuknya yang masih belum menggenapkan dien. Jangan sebarangan melakukan hubungan dengan perempuan, lebih-lebih lagi memberikan harapan. Yang jelas jangan sebarang memilih pasangan.Adib sudah mendirikan rumah tangga. Isterinya walaupun bertudung rapi, namun bukanlah seorang yang faham tentang dinamika dakwah dan pergerakannya. Dia tidak mampu memahami segala kesibukan suaminya yang kadang-kadang perlu pulang lewat malam malah kadang-kadang perlu menginap di tempat lain. Dia juga sukar diajak ke program-program dakwah yang digerakkan oleh bekas aktivis dakwah kampus. Malah dia tidak suka berbual soal fenomena dan keadaan dakwah apatah lagi tentang permasalahan umat. Itulah yang Adib keluhkan ketika ini. Dia berasa bosan dan penat untuk berhadapan dengan semua itu.“ Kau ni pelik”, rungut Muaz.“ Maksud kau”, kening tebal Adib bertemu seolah-olah pelik dengan kata-kata Muaz.“ Sepatutnya bila kau dah tahu ini jadinya, kenapa pula kau nak mengeluh sekarang? Tugas dan tanggungjawab kaulah nak memahamkan dia, nak fahamkan dunia dakwah kau tu”, tegas Muaz.Adib menghela nafas panjang. Dia juga tahu semua itu. Tetapi sekarang tugas tersebut terasa begitu berat dan terlalu membebaninya. Wahida bukanlah isteri yang tidak cekap mengurus rumah tangga, juga bukan seorang yang suka membangkang. Cuma dia hanya berasa cukup dengan itu sahaja. Padahal Adib mahukan isterinya berubah. Dia mahukan isterinya seperti akhawat-akhawat yang dia kenal, yang mempunyai visi tentang dakwah, aktif, dan sudah pasti mampu berkomunikasi dengannya tentang permasalahan dakwah.“ Kau tak kasihankan aku ke, Muaz? Ketika ikhwah-ikhwah lain sudah bergerak ke sana ke mari, aku masih lagi perlu menjelaskan pada Wahida, mengapa aku perlu begini. Ketika kamu semua sedang sibuk membangunkan mimpi, aku masih lagi terkujat dengan partnerku yang juga kuajak membangun mimpi. Seandainya…”
“ Seandainya kau berkahwin dengan akhawat yang memahami, yang se idea, jelas kau tidak perlu melakukan semua itu. Malah boleh jadi, isteri kau membuatkan kau semakin laju. Begitu?” Muaz terus menyambung kalimat Adib yang tergantung.“ Ya. Bukan fikiran yang salah, kan? Kesempatanku masih ada lagi tiga kali”, kata Adib dengan nada putus asa.Muaz menggeleng-gelengkan kepalanya.“ Ta’adud bukan pelarian. Dalam keadaan sebegini, aku sangsi kau tidak mampu berlaku adil. Lupakan semua itu dulu”, tegur Muaz. Sekumpulan akhawat melintas di hadapan mereka. Kata-kata ustaz ketika dia mengkhabarkan tentang perkahwinannya, seketika terngiang-ngiang di telinga Adib.“ Mengapa dia? Antum mahukan akhawat yang macam mana? Insya Allah ana akan carikan. Yang kaya? Yang cantik? Yang cerdas? Yang sudah bekerja?” tanya ustaz.“ Afwan, ustaz, Saya sudah ada pilihan”, tegas Adib.“ Akh Adib…akhawat kita yang sudah berumur dan sudah bersedia berkahwin, ramai. Mereka menunggu kamu semua, para ikhwah. Antum tahu, secara kuantitinya, perkembangan kader ikhwah dan akhawat, selalunya lebih ramai di kalangan akhawat. Sebab itu…seharusnya setiap ikhwah bersedia untuk berkahwin dengan mereka”, jelas ustaz sabar.“ Wahida memang tidak seperti akhawat-akhawat lain, tapi dia sangat baik”, jelas Adib.
Ustaz tersenyum. Beginilah kalau terlalu mengikutkan hati.“ Ana tidak menolak itu semua. Tetapi sebuah rumah tangga dakwah harakiyah, memerlukan lebih dari sekadar baik. Baik sahaja tidak cukup. Isteri antum perlu orang yang faham konsep tersebut. Dia sentiasa bersiap sedia bersama antum di dalam dakwah dan pergerakan. Malah dia bersedia menanggung beban dan pengorbanan. Ini bukan dalam tempoh masa setahun dua tahun, Akh. Proses membentuk karakter seperti ini juga memerlukan waktu yang panjang. Antum perlu menyediakan sesuatu input dan waktu khusus untuk membawa isteri antum ke sana. Entah berapa lama. Jadi…mengapa tidak menikahi sahaja yang sudah jelas kualitinya?” desak ustaz.“ Afwan ustaz. Sekali lagi, saya sudah menetapkan pilihan. Saya datang ke mari bukan untuk minta pertimbangan tetapi sekadar pemberitahuan”, tegas Adib.Sekarang? Kata-kata ustaz terbukti sudah.
Walaupun Adib yakin ustaz tidak mengolok-olokkan dia, malah dia mahu membantu, tetapi Adib tidak ada keberanian untuk datang dan menceritakan masalahnya. Rasanya…seperti tidak tahu mahu letak mukanya di mana. Sebab itu dia mencari Muaz.“ Kalau kau tak terlalu mengikut perasaan dan berfikir labih jauh, juga mempunyai keberanian, kamu mampu sahaja mebatalkan pinangan tidak rasmi kamu tu dulu.kau bagitau sajalah kau dah ada kriteria tertentu tentang calon isteri, ya memang agak risiko. Tapi itu akan seiring berjalannya waktu. Yang jelas kamu bukan seperti sekarang”, Muaz berandai-0andai.“ Muaz, itu cerita lama. Sekarang ni aku mahukan penyelesaian untuk keadaan diriku sekarang!”, ujar Adib kecewa.Muaz ketawa. Hati Adib benar-benar menjadi marah.Deringan telefon berbunyi membuatkan Adib tersentak seketika. Wajahnya berubah tiba-tiba ketika menatap skrin telefonnya.“ Waalaikumusslam. Abang dengan Muaz ni. Kenapa? Ya, lepas abang selesaikan urusan abang, abang kan balik. Walaikumusslam”, Adib mengakhiri perbualannya.“ Siapa? Isteri kau ye?”tanya Muaz.Adib mengangguk.“ Dia selalu saja mahu tahu ke mana aku pergi. Manja. Mahu aku ni bersama dengan dia je”, keluh Adib.“ Kau ni mengeluh lagi. Bagaimana dengan cinta yang dulu yang kau jadikan alasan? Kau masih mencintainya, kan? Begitu juga dia?” pancing Muaz.
Adib tersenyum samar. Cinta. Benarkah? Apakah dulu layak disebut cinta? Jangan-jangan hanya sekadar suka. Yang ada waktunya itu hanya perasaan ingin menjadikan orang yang setiap ketika dia mendekati. Bisa ia dipandangi. Entah apa itu namanya.“ Jangan bicara soal cinta. Aku juga sedang mencarinya”, jelas Adib pasrah.Suara azan Asar mengejutkan kedua-duanya. Muaz menepuk bahu Adib, mengajaknya segera solat. Semoga selesai menghadapNya, mereka mampu melihat jalan keluar dan titik yang lebih terang dalam permasalahan ini. Ternyata selepas solat, Adib mengambil keputusan untuk pulang. Dia tidak mahu isterinya merajuk kerana terlalu lama menunggu. Dalam keadaan normal, Adib biasa pulang darin pejabatnya pukul satu, bertepatan dengan waktu makan. Muaz hanya mengangkat bahunya.“ Kalau kau masih mahu menceritakan masalah kau, aku bersedia untuk mendengarnya, Adib! ", Jerit Muaz ketika motorsikal Adib laju meninggalkan halaman masjid. Adib hanya melambaikan tangan.Malam berjalan menuju separuhnya. Suara cengkerik dan sesekali selaan bunyi burung hantu, menimbulkan suasana khas yang terkadang menegangkan. Adib menyandar ke dinding, menatap sosok tubuh yang sedang nyenyak tidur.Wajah itu belum banyak berubah. Juga senyumannya. Sesuatu yang sempat menggetarkan perasaan Adib. Bahkan menimbulkan keinginannya untuk selalu menatap. Sekarang? Entahlah. Padahal, mereka baru sahaja berkahwin diua tahun.
Mungkinkah kerana Wahida tidak lagi berubah seperti yang diharapkan? Atau Adib mula penat dengan semua hal yang dia fikir mampu dimaklumkan? Atau….Adib mula putus harapan? Bukankah dia sering iri hati ketika melihat pasangan ikhwah dan akhawat yang bersemangat datang ke program-program meraka. Juga ketika melihat ummahat yang aktif menguruskan yayasan, lembaga, atau sarana dakwah lainnya. Oh, bahkan dia sempat bergetar perasaannya ketika bekerja sama dengan akhawat yang masih bujang, ketika sama-sama menguruskan beberapa kerja dalam program dakwah. Kadang-kadang dia rasa macam mahu menutup telingannya ketika teman-teman sepengajiannya bercerita tentang dinamika rumah tangga mereka yang tidak pernah terlepas dari dakwah dan ibadah. Adib mengeleng-geleng.Resah.Ditatapnya wajah Wahida kembali. Wajah yang sering mengundang rasa sayang. Perasaan yang tidak pernah tega. Bukan seperti wajah para akhawat yang dia kenal. Wajah mereka tegas dan penuh kepercayan pada diri. Hanya kadang-kadang saja dia mampu menikmati kelembutan atau kemanjaan yang seolah-olah sengaja disembunyikan.
Astaghfirullah…Adib mengusap wajahnya. Mengapa aku tidak mampu bersyukur? Mengapa aku menumpahkan semua penyebab kerisauan hati kepada Wahida? Benarkah dia tidak bersalah sama sekali? Tidak. Jangan –jangan , sikap Wahida yang begitu lambat berubah, kerana sikap Adib sendiri. Boleh jadi Adiblah yang terkesan memaksakan kehendaknya.Mengajaknya menembusi dunia yang jauh berbeza, tanpa ada tahapan. Benar kata ustaz, Adib perlu menyediakan input terbaik dan waktu yang lebih, jika benar-benar mahu Wahida seperti yang dia kehendaki. Dan, kesabaran adalah kunci utama dalam proses panjang itu. Sebagaimana Adib sendiri mengalaminya sejak sekolah menengah dulu.Jelas, Adib mengenal Islam lebih mendalam sejak di tingkatan enam rendah di sekolah menengah, kemudian mula aktif di kampus sehinggalah sekarang , dalam dunia pekerjaan.
Proses itu terus berjalan. Berapa tahun? Tujuh tahun! Bagaimana mungkin dia mahuklan Wahida sepertinya dalam hitungan satu dua tahu ini? Secerdas dan seaktif apapun Wahida, dia tetap tidak akan mampu dipenuhi.Kata-kata Ustaz benar.Kenapa kita perlu memilih akhawat yang sudah menjadi? Yang sudah sama siap berlari? Ini untuk matlamat dakwah yang panjang…Tiba-tiba…Satu tepukan lembut memutuskan perenungan Adib. Wahida menatapnya penuh tanda tanya. Adib tersenyum tipis.“ Abang tak dapat tidur, Penat sangat rasanya.Tadi tengah bersih-bersihkan komputer”, jelas Adib sebelum Wahida sempat membuka mulut.“ Abang nak Wahida picit? Atau abang nak minum?” tawar Wahida dan siap sedia bangun.“ Tak payahlah. Abang…nak solat. Insya Allah lepas ni lebih bersemangat”. Adib menepuk bahu isterinya dan bergegas ke bilik mandi.“ Wahida nak ikut”, Wahida menyusul. “ Wahida nak solat sama-sama dengan abang. Mudah-mudahan kita cepat dikurniakan anak”, ujar Wahida manja.Adib tersenyum lalu mengangguk.Wahida berdoa agar mereka dikurniakan zuriat penyambung generasi rabbani. Adib berdoa agar diberikan kesabaran dan kekuatan dalam usaha membimbing keluarganya. Lebih-lebih lagi apabila nanti mereka benar-benar mendapatkan amanah. Dia sudah tahu, tidak ada lagi jalan mundur. Dia harus maju. Dan sebagai seorang qowwam, dia tidak mungkin maju sendiri-sendiri. Itulah bentuk tanggungjawabnya.Malam semakin pekat dan dingin. Bunyi cengkerik berirama layaknya seperti okestra. Adib merasakan dadanya lebih lapang dan tenang.

Qadhiyyah Muasoroh : Hukum Ucapan Selamat Kepada Non-Muslim Di Hari Perayaan Mereka.


Mengucap tahniah kepada kaum bukan Islam sempena hari-hari kebesaran agama mereka seperti hari Krismas, Deepavali, Thaipusam dan sebagainya, termasuk antara masalah furu' (cabang) dalam akidah Islam yang diperselisihkan antara ulama pada zaman ini. Perselisihan pendapat antara ulama mengenai hukum itu, pada hemat saya berpunca daripada tasawwur yang kurang jelas terhadap maksud ucapan selamat hari-hari kebesaran kaum Islam yang dikemukakan itu. Jika maksud pengucapan itu adalah ikut serta berhari raya, merelai kekufuran kaum bukan Islam dan berkasih sayang dengan mereka atas nama agama, maka sememangnya haram dan sama sekali tidak boleh dilakukan.

Jika maksud ucapan selamat hari-hari kebesaran kaum bukan Islam itu tidak lebih daripada hanya ikut bercuti pada hari itu, membalas ucapan selamat Hari Raya yang diucapkan terdahulu, atau hanya memperlihatkan rasa senang hati dengan kegembiraan mereka berhari raya, maka saya kira pengucapan seumpama ini tidak termasuk dalam hal-hal akidah yang sekali gus menunjukkan rela hati terhadap agama dan kepercayaan mereka.

Meneliti beberapa fatwa yang dipamerkan melalui laman-laman web, seperti Islam-Online. net, Islam.qa.net. Islamweb dan lain-lain, saya dapati beberapa ulama terkemuka di dunia Islam kini turut memfatwakan hukum merayakan hari-hari kebesaran kaum-kaum bukan Islam. Antara mereka yang mengeluarkan fatwa dan pendapat ialah:

1. Muhammad Saleh al-Munajjid, seorang ulama dan ahli majlis fatwa kerajaan Arab Saudi. Beliau berpendapat hukum mengucap tahniah kepada bukan Islam pada hari-hari kebesaran mereka seperti hari Krismas dan sebagainya adalah haram dan bertentangan asas-asas akidah Islam. Alasan beliau ialah:

Pertama : Hari perayaan agama kaum bukan Islam pada hakikatnya adalah syiar agama mereka. Umat Islam disuruh supaya tidak meniru syiar dan budaya kaum bukan Islam. Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud : Barang siapa meniru syiar sesuatu kaum (bukan Islam), maka ia daripadagolongan mereka - (riwayat Abu Dawud bilangan 4031. Musnad Ahmad Ibn Hanbal, bilangan 5093).

Kedua : Dalam suatu kaedah, ulama Islam telah mengambil ketetapan iaitu merelai kekufuran adalah kufur. Ikut serta berhari raya dengan kaum bukan Islam, serta mengucap tahniah dan selamat Hari Raya kepada mereka, adalah antara tanda kerelaan hati terhadap kekufuran seseorang. Islam menolak sekeras-kerasnya sikap itu.

Ketiga : Umat Islam dikehendaki bersikap benci terhadap kaum bukan Islam. Mereka wajib mencintai hanya kepada orang mukmin. Sikap ini disebutkan dalam salah satu judul Sahih al-Bukhari iaitu al-Hub fi'llah wa al-bughd fi'llah min al-iman (antara ciri iman ialah cinta dan benci kepada Allah). Inilah juga sikap yang wajib diteladani pada nabi Muhammad s.a.w., iaitu berkeras dengan bukan Islam dan berkasih sayang sesama mukmin (surah al-Fatah: ayat 29).
Sebagai kesimpulan, mengucap tahniah kepada kaum bukan Islam pada hari-hari kebesaran mereka adalah suatu bentuk kasih sayang dan merelai kekufuran mereka. Keadaannya sama dengan merelai berlakunya kejadian-kejadian maksiat dan dosa-dosa seperti zina, minum arak dan sebagainya.

Saya berminat memberi dua komen kepada pandangan Syeikh al-Munajjid ini, iaitu :

a. Pendapat beliau tidak membezakan antara jenis kafir, sama ada musyrikatau ahli kitab, kafir yang memusuhi Islam dan yang tidak memusuhinya, sedangkan al-Quran membezakan antara jenis-jenis kafir itu, lalu al-Quran membenarkan umat Islam berbuat baik terhadap kafir yang tidak memusuhi Islam dan memberi sedikit keistimewaan kepada kafir ahli kitab seperti harus kahwin dengan wanita mereka dan makan haiwan sembelihannya.

Hubungan dua hala Khusus bagi kaum kafir yang tidak memusuhi Islam, Allah mengharuskan berbuat baik kepada mereka, iaitu dalam surah al-Mumtahanah, ayat 8 yang bermaksud : Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu dan tidak mengeluarkan kamu dari kampung halaman kamu.

Tentang ahli kitab pula Allah berfirman dalam surah al-Ma'idah, ayat 5 yang bermaksud: Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi kitab itu adalah halal bagi kamu, dan makanan (sembelihan) kamu adalah halal bagi mereka.
Ayat ini menunjukkan adanya hubungan dua hala antara kafir ahli kitab dengan umat Islam dan juga dengan kafir yang setia kepada kerajaan Islam.

b. Fatwa beliau tidak mengecualikan juga hubungan kemanusiaan, sedangkan bidang-bidang kemanusiaan kita tidak dilarang mengadakan hubungan baik. Hubungan yang langsung terputus dengan sendirinya tidak memberi laluan kepada pendakwah untuk menyatakan kebaikan Islam kepada mereka, sedangkan agama ini adalah agama dakwah, agama damai dan selamat. Perang hanya berlaku apabila dakwah ditolak, jalan-jalan damai tidak wujud lagi kepada pendakwah.

Saya berpendapat, pandangan Syeikh al-Munajjid ini agak sehala dan sedikit keterlaluan, kerana tidak mengecualikan kafir yang tidak memusuhi Islam dan yang setia patuh kepada pemerintahannya. Fatwa beliau juga tidak membezakan antara amalan Hari Raya kaum bukan Islam yang ada hubungan dengan akidah dan yang tiada hubungan dengan akidah.

Memang jelas haram bagi umat Islam menyertai Hari Raya kaum bukan Islam, seperti memasang lampu warna-warni di keliling rumah, menghias rumah dengan pokok Krismas, menyertai perarakan Hari Deepavali dan lain-lain, kerana amalan ini ada hubungan terus dengan akidah. Tetapi jika mereka menghulur makanan pada hari itu dan kita terimanya dengan baik hati, serta mengucapkan terima kasih kerana hadiah yang diberi mereka, saya kira ia tidak ada kena-mengena dengan akidah, bahkan harus kita terima hadiah dan makanan halal yang mereka beri.

Demikian juga jika pada hari-hari kebesaran itu merupakan hari kelepasan am, semua pejabat dan kakitangan kerajaan diberi cuti, termasuk kakitangan beragama Islam. Saya tidak fikir jika kita bersuka ria kerana bercuti pada hari itu, maka kita boleh dianggap turut membesarkan syiar agama dan budaya kaum bukan Islam.

2. Dr. Yusuf al-Qaradawi pula berpendapat : Jika kaum bukan Islam memulakan ucapan selamat Hari Raya mereka kepada kita, maka kita juga harus membalas ucapan yang serupa kepada mereka, kerana ini tidak lebih daripada hanya mewujudkan rasa simpati antara satu sama lain. Ia tidak bermakna bahawa kita telah merelakan agama dan kepercayaan terhadap Isa Maryam sebagai Tuhan dan lain-lain pemujaan.

Al-Qaradawi memberi beberapa alasan, antaranya : Islam tidak melarang kita berbuat baik terhadap ahli kitab yang tidak bermusuh dengan kita. Kita harus berbuat baik kepada mereka, sebagaimana mereka berbuat baik kepada kita. Ayat 8 dalam surah al-Mumtahanah yang dikemukakan terdahulu dijadikan hujah.

Menurut al-Qaradawi lagi, bidang-bidang kerjasama antara Islam dan bukan Islam seperti bidang teknikal, ketukangan dan lain-lain masih terbuka. Bahkan Nabi s.a.w. pernah menggunakan kepakaran seorang Yahudi bernama Abdullah Ibn Urayqit sebagai penunjuk jalan ketika baginda berhijrah ke Madinah.

Peranan Abdullah ini sangat besar, ada kemungkinan jika dia berniat jahat pada ketika itu, kesannya boleh menggagalkan strategi hijrah atau jika dia mengambil kesempatan menipu, maka sudah pasti kesannya sangat buruk kepada Islam dan dakwah, namun baginda tetap menggunakan juga khidmat kepakaran Yahudi yang bukan Islam itu.

Sebagai kesimpulan, Dr. Yusuf al-Qaradawi berpendapat harus bagi kita mengucapkan tahniah dan selamat Hari Raya seperti hari Krismas kepada kaum bukan Islam pada hari-hari kebesaran mereka, kerana Islam tidak menutup hubungan antara dua kaum yang berlainan agama dan kepercayaan ini.

Pendapat al-Qaradawi ini juga saya kira ada sedikit keterlaluan apabila beliau mengharuskan ucapan tahniah kepada kaum bukan Islam sebagai ucapan balas pada hari Krismas dan sebagainya. Ini kerana ucapan tahniah itu pada hakikatnya doa dan mengharapkan Allah memberi kebaikan kepada mereka, sedangkan ulama sepakat menyatakan haram berdoa kepada kaum bukan Islam sekalipun ia hanya kerana membalas ucapan yang mereka mulakan.

Saya kurang pasti apakah al-Qaradawi mengharuskan juga pengiriman perutusan kad-kad hari Krismas, jika ia hanya kerana membalas kad-kad yang mereka kirimkan, sedangkan dalam kad-kad itu biasanya tertulis kata-kata yang berupa doa selamat, harapan dan cita-cita yang lebih mirip kepada budaya dan syiar agama Kristian.

Setelah mempertimbangkan antara dua fatwa yang dikeluarkan oleh al-Munajjid dan al-Qaradawi di atas, saya lebih suka memilih jalan yang lebih sederhana, iaitu individu kafir yang dengan terang-terang memusuhi Islam dan umatnya, tidak harus diwujudkan sebarang hubungan pada hari-hari perayaan mereka, sekalipun mereka terdiri daripada ahli kitab.

Sebaliknya kafir yang setia kepada kerajaan Islam, seperti kaum-kaum bukan Islam yang tinggal di Malaysia, jika mereka telah menunjukkan kesetiaan yang baik kepada negara, memberi sumbangan ke arah keharmonian antara kaum serta hormat-menghormati antara kaum, terutamanya dengan masyarakat Islam, maka tiada salahnya kita berkongsi raya dengan mereka dalam hal-hal yang tidak berkaitan akidah dan tidak menyentuh kesucian Islam.

Bagaimanapun, kita tidak harus memandang kecil isu penerapan budaya dan syiar bukan Islam yang begitu mudah menyerap ke dalam masyarakat kita, terutama melalui media elektronik yang sangat digemari oleh anak-anak kita.

Halaman Rujukan Semasa